Skip to content

TUGAS BK part 1

Juni 23, 2013

Gambar

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Dalam lembaga pendidikan formal tentu mengacu pada adanya tujuan dari pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan peserta didiknya secara optimal dan mengubah perilaku peserta didik dari hal-hal yang negatif menjadi positif, setiap pihak atau personil disebuah sekolah hampir semuanya mengharapkan para peserta didiknya mampu belajar dengan baik dan hasil dari belajar itulah yang mampu mengubah tingkah laku siswa.

Peserta didik merupakan pribadi – pribadi yang sedang berada dalam proses berkembang kearah kematangan. Masing-masing peserta didik memiliki karakteristik pribadi yang  unik. Dalam arti terdapat perbedaan individual diantara mereka, seperti menyangkut aspek kecerdasan, emosi, sosiabilitas, sikap, kebiasaan, dan kemampuan penyesuaian diri. Dalam dunia pendidikan, peserta didik pun tidak jarang mengalami masalah-masalah, sehingga tidak jarang dari peserta didik yang menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat.

Berkenaan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik, maka perlu adanya pendekatan-pendekatan melalui pelaksanaan bimbingan dan konseling. Disini, guru memiliki perananan yang sangat penting karena guru merupakan sumber  yang  sangat menguasai informasi tentang keadaan siswa atau pesrta didik. Di dalam melakukan  bimbingan dan konseling, kerja sama konselor dengan personel lain di sekolah merupakan suatu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Kerja sama ini akan menjamin tersusunnya program bimbingan dan konseling yang komprehensif, memenuhi sasaran, serta realistik.

Oleh karena itu dari permasalahan yang terjadi di sekolah perlu antisipasi untuk mengurangi permasalahan yang terjadi di kalangan siswa karena jika tidak diantisipasi maka dalam dunia pendidikan itu hanya bisa dikategorikan oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang tidak mengfungsikan tanggung jawabnya sebagai pendidik dan juga tidak profesional dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Sangat diharapkan kepada para personil sekolah atau yang berwenang dalam sekolah agar dapat mengatasi atau  memecahkan masalah-masalah yang dihadapi yang terjadi di sekolah dengan harapan agar para siswa juga bisa terbentuk kepribadiannya dengan baik.

Untuk itu penulis melaksanakan studi kasus ini dengan cara observasi, wawancara dan pendekatan maksud untuk mencari penyebab perilaku yang menyimpang dan hal itu untuk membantu siswa untuk memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan perkelahian dan menggangu siswa yang lain khususnya dalam pelajaran.

1.2  Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang disampaikan di atas, adapun rumusan masalah yang ingin penulis kemukakan, yaitu:

1.2.1     Apa pengertian dari bimbingan dan observasi?

1.2.2     Apa saja permasalahan yang dihadapi oleh siswa yang diobservasi?

1.2.3     Apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya masalah pada anak tersebut?

1.2.4     Bagaimana solusi dan bimbingan yang dapat diberikan untuk siswa yang diobservasi tersebut?

       

1.3  Tujuan

Berdasarkan rumusan permasalahan di atas, adapun tujuan dari observasi ke Sekolah Dasar yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :

1.3.1     Mengetahui pengertian dari bimbingan dan observasi

1.3.2     Mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh siswa yang diobservasi

1.3.3     Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan pada anak tersebut

1.3.4     Mengetahui solusi dan bimbingan yang dapat diberikan untuk siswa yang diobservasi tersebut

 

1.4  Manfaat

Adapun manfaat dari observasi ke Sekolah Dasar adalah sebagai berikut :

1.4.1        Manfaat dari observasi yang telah dilakukan bagi siswa adalah permasalahan yang sedang dihadapi siswa dapat segera diselesaikan sehinga tidak menghambat perkembangan belajar siswa

1.4.2        Manfaat dari observasi yang dilakukan bagi guru Sekolah Dasar adalah dapat membantu guru untuk mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi siswanya dan penyebab dari permasalahan tersebut, sehingga akan mempermudah guru dalam membimbing siswa yang bermasalah tersebut

1.4.3        Manfaat dari observasi yang dilakukan bagi Lembaga adalah Lembaga akan dapat mencetak calon-calon tenaga pendidik yang profesional, yang mampu mengetahui dan membimbing siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi siswa, khususnya siswa Sekolah Dasar

1.4.4        Manfaat dari observasi yang dilakukan observer adalah observer mendapatkan gambaran real mengenai permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa dan dapat belajar memecahkan permasalahan tersebut, sehingga akan bermanfaat nantinya ketika sudah benar-benar menjadi seorang guru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1  Pengertian Bimbingan Dan Observasi

Menurut Rochman Natawidjaja (2002:5) dalam Hallen A mengemukakan bahwa “bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntunan dan keadaan lingkungan sekolah keluarga dan masyarakat, serta kehidupan umumnya. Dengan demikian ia dapat menikmati kebahagiaan hidup dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan masyarakat umumnya, bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai mahluk sosial”.Selain itu Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya.

 Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa bimbingan pada prinsipnya adalah tindakan upaya untuk memberikan kepada individu atau siswa, agar siswa dapat keluar dari masalah yang ia hadapi ataupun mampu mengembangkan kemampuannya secara optimal. Bantuan yang dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis. Bimbingan yang diberikan kepada siswa sebaiknya diberikan sesuai kebutuhan siswa.Karena setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

   Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati. Banyaknya periode observasi yang perlu dilakukan dan panjangnya waktu pada setiap periode observasi tergantung kepada jenis data yang dikumpulkan. Apabila observasi itu akan dilakukan pada sejumlah orang, dan hasil observasi itu akan digunakan untuk mengadakan perbandingan antar orang-orang tersebut, maka hendaknya observasi terhadap masing-masing orang dilakukan dalam situasi yang relatif sama. 

Dalam melakukan observasi mengenai permasalahan siswa di SDN 1 Paksebali, penulis menggunakan metode observasi non partisi, wawancara,angket dan hasil bimbingan. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan data tentang siswa tersebut secara langsung, sedangkan sosiometri dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam bersosialisasi dalam lingkungan teman sebaya.

 

2.2.  Masalah yang Dialami Oleh Siswa yang Diobservasi

Dalam kegiatan observasi yang penulis lakukan di SD No. 1 Paksebali, khususnya kelas IB, penulis menemukan seorang siswa yang bermasalah.Adapun data siswa bermasalah yang diperoleh penulis dari kegiatan observasi di kelas IB adalah sebagai berikut

2.2.1 Identitas Siswa

Nama                        : AARDP

Jenis kelamin            : Laki-laki

Umur                        : 9 tahun

Kelas                        : IB

Alamat                     : Puri Satria Kaleran Paksebali

Pekerjaan Orang tua :

  1. Ayah      : Wiraswasta
  2. Ibu          : Wiraswasta

 

2.2.2 Identifikasi Masalah

         Adapun masalah-masalah yang sedang dihadapi anak tersebut adalah

  1. Anak ini sering berkelahi
  2. Anak ini senang mengganggu teman-temannya
  3. Anak ini suka berkata-kata kasar
  4. Anak ini tidak naik kelas sebanyak dua kali berturut-turut
  5. Sewaktu guru menerangkan pelajaran, dia sering tidak memperhatikannya
  6. f.   Anak ini di cap oleh teman-temannya sebagai anak nakal, seringkali dia mengeluarkan baju yang seharusnya dimasukkan. Rambutnya pun seperti tidak disisir

 

2.2.3 Menetapkan Masalah

Dari identifikasi masalah di atas, adapun masalah utama yang akan dibahas yaitu anak ini sering berkelahi dengan temannya.

 

2.2.4 Pengumpulan Data

Masalah yang dihadapi R dapat terungkap secara lengkap jika dilakukan berbagai kegiatan pengumpulan data secara cermat dan hati-hati. Untuk mengungkapkan permasalahan tersebut adapun langkah-langkah pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut:

  1. Observasi

Observasi dilakukan dengan datang langsung ke SD. Pertama-tama penulis menemui Kepala Sekolah SD No 1 Paksebali untuk meminta izin melaksanakan observasi di SD tersebut.Kemudian menemui wali kelas dari anak yang bermasalah dan mewawancarai wali kelas tersebut.

Hasil yang didapat adalah wali kelas mengatakan bahwa R merupakan salah satu siswa yang sering berkelahi dengan temannya.

  1. Interview/Wawancara

Dalam wawancara ini, penulis melakukan wawancara dengan R mengenai permasalah yang sedang ia hadapi serta bagaimana lingkungan tempat tinggalnya dan orang tuanya. Selain mewawancarai R, penulis juga melakukan wawancara dengan teman-teman sekelasnya mengenai perilaku R sehari-hari di sekolah.

Dari angket sosiometri yang penulis sebarkan di kelas dapat diketahui bahwa R merupakan siswa yang kurang disukai oleh teman-temannya karena tidak ada satu pun yang memilihnya (Dapat dilihat dalam data sosiogram).

  1. Pencatatan Dokumen

Penulis meminta kepada wali kelas untuk menunjukkan dokumentasi atau arsip data tentang perilaku nakal anak dalam melanggar tata tertib sekolah yang dihimpun oleh guru kelas/wali kelas.

  1. Home Visit

Untuk home visit penulis tidak melakukan sampai ketindakan ini, karena dirasa dan saran oleh wali kelas sendiri untuk melakukan observasi di sekolah saja.

 

Melalui metode yang disebutkan diatas, penulis banyak memperoleh data mengenai R. Siswa yang berumur sembilan tahun ini duduk di bangku kelas IB SD N 1 Paksebali. Berdasarkan latar belakang keluarganya, R termasuk keluarga yang menengah ke bawah. Ayahnya bekerja wiraswasta (buruh bangunan), sedangkan ibunya bekerja wiraswasta (pembuat ider-ider).

Dari postur tubuh, R mempunyai postur tubuh cukup tinggi (sesuai dengan tinggi anak sebayanya). Dari segi penampilan, R adalah seorang anak yang brandalan. Jika dia pergi ke sekolah, seringkali dia mengeluarkan baju yang seharusnya dimasukkan. Rambutnya seperti tidak disisir.

Di Sekolah dia dicap oleh teman-temanya sebagai anak nakal. Menurut catatan masalah siswa yang dimiliki oleh wali kelas, R termasuk anak yang senang berkelahi. Dia suka iseng, sering berkata-kata kasar  dan menganggu teman-temanya. Selain itu, dia juga tidak naik kelas sebanyak 2 kali. Sewaktu guru menerangkan pelajaran, dia sering tidak memperhatikannya. Dia berbisik-bisik dengan teman sebelahnya. Bila ada yang menegur tingkah lakunya yang demikian, dia menjadi kesal dan menantang teman yang menegur tadi untuk berkelahi.

Saya sempat melakukan wawancara dengan R, kenapa senang berkelahi dan sering berkata-kata kasar tetapi dia tidak menjawab hanya melihat saya saja.

Saat dilakukan wawancara tampak bahwa R sepertinya tidak ingin menampilkan kenakalannya kepada orang yang lebih tua yang belum dia kenal.

R bertingkah laku nakal sering berkelahi dengan temannya karena ia merasa tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya karena keseharian orang tuanya bekerja dan tidak terlalu peduli dalam perkembangannya. Dari tidak mendapatkan perhatian, dia menjadi bertindak sesukanya dan menjadi anak yang suka berkelahi. Sebenarnya masalah yang di alami R bukanlah masalah yang sukar untuk diatasi. Masalah R akan segera diatasi bila ia mendaptkan perhatian dari orang tuanya dan sering diberikan pengertian dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai norma dan moral (budi pekerti).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TABULASI DATA

 

Tabulasi data merupakan langkah memasukkan data berdasarkan hasil penggalian data di lapangan. Untuk memperoleh nilai suatu variabel, misalnya nilai X1, X2, atau X3, bisa langsung data asli dari lapangan dan bisa merupakan hasil penjumlahan dari beberapa poin pertanyaan yang telah dijawab oleh responden.

Istilah tabulasi data diartikan menyususun menjadi tabel. Pengertian lain tabulasi data adalah pengolahan atau pemrosesan hingga menjadi tabel. Tabulasi merupakan coding sheet yang memudahkan peneliti dalam mengolah dan menganalisisnya baik secara manual maupun komputer. Tabulasi ini berisikan variabel-variabel objek yang akan diteliti dan angka-angka sebagai simbolisasi (label) dari kategori berdasarkan variabel-variabel yang diteliti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: